Pengukuran Perangkat Lunak Menggunakan Metrik

Pengukuran Perangkat Lunak Menggunakan Metrik

Pengukuran Perangkat Lunak Menggunakan Metrik

PENGUKURAN, METRIK, DAN INDIKATOR

Dalam konteks rekayasa perangkat lunak, mengukur (measure) mengindikasikan kuantitatif dari ukuran atribut sebuah proses atau produk. Pengukuran (measurement) adalah kegiatan menentukan sebuah measure (pengukuran). Dan definisi metriks menurut IEEE adalah “ukuran kuantitatif dari tingkat dimana sebuah system, komponen atau proses memiliki atribut tertentu”.
Pengukuran telah ada jika suatu data-data tunggal telah dikumpulkan (misal: jumlah kesalahan yang ditemukan pada kajian sebuah modul tunggal). Metrik perangkat lunak menghubungkan pengukuran-pengukuran individu dengan banyak cara, misal rata-rata dari jumlah kesalahan yang ditemukan pada setiap kajian.

Rekayasa perangkat lunak mengumpulkan pengukuran dan mengembangkan metrik menjadi sebuah indikator, yaitu sebuah metrik atau kombinasi metrik yang memberikan pengetahuan dalam proses perangkat lunak, sebuah proyek perangkat lunak, atau produk itu sendiri. Fungsinya adalah memberi pengetahuan pada manajer proyek atau perekayasa perangkat lunak untuk menyesuaikan proses, proyek, dan produk agar menjadi lebih baik.

2. PENGUKURAN PERANGKAT LUNAK

Pengukuran langsung dari produk berkaitan dengan deretan kode, kecepatan eksekusi, ukuran memori, dan cacat yang dilaporkan pada suatu periode tertentu. Sedangkan pengukuran tidak langsung dari produk adalah tentang fungsionalitas, kualitas, kompleksitas, efisiensi, realibilitas, kemampuan pemeliharaan, dsb.Dalam kenyataannya, pengukuran perangkat lunak secara objektif akan sulit dilakukan secara langsung karena ada pengaruh-pengaruh seperti individu dalam tim pengukuran, atau tingkat kompleksitas proyek.
Tetapi jika pengukuran dinormalisasi, maka mungkin akan dapat didapatkan metrik perangkat lunak yang memungkinkan perbandingan dengan rata-rata organisasional yang lebih besar.

2.1 METRIK SIZE ORIENTED

Parameternya adalah ”ukuran” dari software yang dihasilkan. Dapat dilakukan jika ada record atau catatan dari organisasi. Perlu diperhatikan bahwa yang record yang diperlukan adalah keseluruhan aktivitas rekayasa perangkat lunak. Misalnya tabel dibawah ini adalah pengumpulan dari data-data record yang ada dari sebuah organisasi:

atoy1

Dimana LOC (line of code) menunjukkan jumlah baris kode yang dibuat pada masing-masing proyek, misalnya pada kolom pertama, proyek aplha dibuat dengan 12100 baris kode dalam 365 halaman, dikembangakan dengan usaha 24 orang per bulan dengan biaya $168000. Lalu ditemukan kesalahan sebanyak 134 pada proyek sebelum direlease, 29 cacat setelah direlease pada pelanggan, dan ada 3 orang yang bekerja pada pengembangan proyek perangkat lunak alpha.

Untuk pengembangan dari metrik ini, dapat dibuat metrik size oriented baru yang sederhana untuk tiap proyek, misal: kesalahan per baris kode (dihitung ribuan), cacat per baris kode (ribuan), dokumentasi per baris kode (ribuan), kesalahan per usaha, baris kode per usaha, biaya per halaman dokumentasi, dsb.

Metrik ini tidak dapat diterima secara universal karena adanya kontroversi pada penggunaan baris kode sebagai titik ukur. Sebagian yang setuju pada pengukuran LOC menganggap bahwa LOC adalah suatu bukti real dari apa yang dilakukan oleh perekayasa perangkat lunak (dalam konteks ini membuktikan berapa banyak baris program yang ditulis oleh seorang programmer – comment yang ada).

Sedangkan sebagian yang tidak setuju bahwa LOC dijadikan suatu tolak ukur kebanyakan disebabkan alasan ambiguitas dari cara menghitung LOC itu sendiri. Dalam masa-masa awal bahasa pemrograman Assembly, hal ini tidak menjadi suatu masalah karena dalam 1 baris aktual program merupakan 1 baris instruksi, tetapi dalam bahasa pemrograman tingkat tinggi, dimana pada masing-masing bahasa, untuk menyelesaikan suatu masalah dengan algoritma yang sama pun LOC nya sudah berbeda-beda. Bahkan dalam satu bahasa pemrograman yang sama, untuk menyelesaikan masalah yang sama, LOC nya bisa berbeda jauh tergantung dari algoritma yang digunakan. Hal ini yang membuat banyak sekali kontroversi mengenai LOC sebagai tolak ukur dari sebuah software.

Sumber : https://uptodown.co.id/